Pengaruh Hak Asasi Manusia Yaitu Hak Memiliki Keturunan dan Berkeluarga dengan Hukuman Kebiri Kimia Bagi Pelaku Kekerasan Seksual
DOI:
https://doi.org/10.65310/b706ck88Kata Kunci:
Human Rights, Chemical Castration, Deterrence Theory, Criminal Law Policy, Child Protection.Abstrak
This study critically examines the intersection between chemical castration as a criminal sanction and the protection of human rights, particularly the right to form a family and to procreate, within the Indonesian legal system. Employing a normative-doctrinal legal research method, the analysis integrates statutory, conceptual, and limited comparative approaches to assess the coherence of Law Number 17 of 2016 with national and international human rights standards. The findings reveal that chemical castration raises substantial normative tensions, particularly in relation to bodily integrity, reproductive rights, and non-derogable rights protected under constitutional and international frameworks. Furthermore, the policy demonstrates limited effectiveness when evaluated through deterrence theory, as it fails to satisfy the elements of certainty, severity, and celerity, while lacking empirical support as a reliable crime prevention mechanism. Comparative analysis indicates that more balanced approaches—combining voluntary measures, psychological rehabilitation, and medical oversight—offer greater legal and practical legitimacy. The study concludes that the current framework requires comprehensive reform through implementing regulations, integrative rehabilitation models, and rights-based safeguards to ensure proportionality, legal certainty, and alignment with contemporary criminal justice principles.
Unduhan
Referensi
Akbar, M. I., Ratnadilah, N. A., & DS, A. E. (2023). Tindak Pidana Pemerkosaan Anak (Telaah Putusan Pengadilan Negeri Bandung Nomor: 989/Pid. Sus/2022/PN. Bdg). Ma’mal: Jurnal Laboratorium Syariah dan Hukum, 4(2), 170-191. https://doi.org/10.15642/mal.v4i2.164
Aldino, H., & Krisna, L. A. (2023). Pemidanaan Pelaku Kekerasan Seksual Menurut Pandangan Peradilan Pidana. Jurnal Hukum Samudra Keadilan, 18(Khusus), 183-196. https://doi.org/10.33059/jhsk.v18iKhusus.8196
Amri, Q., & Sambas, N. (2025). Efektivitas Penegakan Hukum terhadap Tindak Pidana Kekerasan Seksual dalam Perspektif Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual. Collegium Studiosum Journal, 8(1), 366-373. https://doi.org/10.56301/csj.v8i1.1648
Anjari, W., & Mailinda, N. (2024). Penjatuhan Pidana Mati Kekerasan Seksual Terhadap Anak Dalam Perspektif Hak Asasi Manusia: Kajian Putusan Nomor 5642 K/Pid. Sus/2022. Jurnal Yudisial, 17(2), 242-268. https://doi.org/10.29123/jy.v17i2.704
Beccaria, C. (1764). On Crimes and Punishments (H. Paolucci, Trans.). Bobbs-Merrill.
Bentham, J. (1988). An Introduction to the Principles of Morals and Legislation. Prometheus Books.
Darwis, D., Idham, I., Melati, D. P., & Renaldy, R. (2025). Perlindungan Hukum Pihak Kepolisian Terhadap Anak Dalam Tindak Pidana Kekerasan Seksual (Studi Kasus: Kepolisian Resor Lampung Utara). Audi Et AP: Jurnal Penelitian Hukum, 4(01), 71-82. https://doi.org/10.24967/jaeap.v4i01.3934
Fathunisa, N. (2021). Penerapan kebiri kimia sebagai hukuman bagi pelaku kekerasan seksual terhadap anak. Kompasiana.
Ilaina, N., & Sa’idah, Y. P. (2025). Sinkronisasi Politik Hukum Perlindungan Anak dalam Sistem Peradilan Pidana Anak di Indonesia. Jurnal Hukum Ekualitas, 1(2), 102-117. https://doi.org/10.56607/2gn75p52
Indonesia. (1945). Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Indonesia. (1998). Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1998 tentang Pengesahan Convention Against Torture and Other Cruel, Inhuman or Degrading Treatment or Punishment.
Indonesia. (1999). Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.
Indonesia. (2005). Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Civil and Political Rights.
Indonesia. (2016). Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak menjadi Undang-Undang.
Kartika, S., & Ananda, F. (2022). Penjatuhan Hukuman Kebiri Kimia pada Pelaku Kejahatan Pedofilia dalam Perspektif Maqashid Syari’ah Asy-Syathibi. Yurisprudentia: Jurnal Hukum Ekonomi, 8(1), 88-104. https://doi.org/10.24952/yurisprudentia.v8i1.5743
Kemenppa. (2021). Statistik Gender Tematik: Mengakhiri Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak di Indonesia. Kementerian PPA RI.
Komnas Perempuan. (2023). Lembar Fakta Catatan Tahunan Komnas Perempuan Tahun 2023.
Malik, M. M., Sativa, C. O., Handayani, M., & Anugrah, M. R. (2024). Dinamika Hukum dalam Perlindungan Pekerja Anak. Notary Law Journal, 3(1), 1-11. https://doi.org/10.32801/nolaj.v3i1.54
Maulana, R., & Rochmani, R. (2022). Hukuman Kebiri Bagi Pelaku Kekerasan Seksual Terhadap Anak (Pedofilia) Berdasarkan Uu Perlindungan Anak. Dinamika Hukum, 23(2), 135-151. https://doi.org/10.35315/dh.v23i2.9081
Minanto, A., & Elfia, E. (2022). Respon Ulama dan Dokter terhadap Hukuman Kebiri Kimia Bagi Pelaku Pedofilia. Al-Qisthu: Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Hukum, 20(2), 212-228. https://doi.org/10.32694/qst.v20i2.2291
Moonik, P. K., Tama, S. V. P., & Katuuk, M. S. M. (2024). Pemenuhan Hak Pelaku Kekerasan Seksual Dalam Sanksi Pidana Kebiri Kimia Berdasarkan Hak Asasi Manusia. Jurnal Ilmu Hukum: ALETHEA, 8(1), 18-36. https://doi.org/10.24246/alethea.vol8.no1.p18-36
Mufidah, A., & Ishaq, Z. (2024). Penerapan Hukum dan Sanksi Tindak Pidana Pemerkosaan oleh Anak Dibawah Umur dalam Perspektif Hukum Pidana Islam. JOSH: Journal of Sharia, 3(02), 76-86. https://doi.org/10.55352/josh.v3i02.920
Multiwijaya, V. R., & Widjajanti, E. (2023). Jerat Hukum Kebiri Pelaku Korban Kekerasan Seksual Pada Anak. Collegium Studiosum Journal, 6(1), 200-214. https://doi.org/10.56301/csj.v6i1.878
Nafalia, Y. W., Susmiyati, H. R., & Apriyani, R. (2026). Perlindungan Hak Reproduksi Istri Atas Pembatasan Kemampuan Suami Yang Dikenai Pidana Kebiri Kimia: Kajian Hukum Keluarga Dan Ham. Jurnal Ilmiah Advokasi, 14(1). https://doi.org/10.36987/jiad.v14i1.8275
Novitasari, S., Sopyan, Y., & Rambe, M. S. (2024). Pembaharuan perlindungan hukum terhadap perempuan korban kekerasan seksual dalam Undang–Undang Nomor 12 Tahun 2022. Mavisha: Law and Society Journal, 1(1), 30-44. https://doi.org/10.15408/7h9p1y62
Rahman, F., & Suparmin, S. (2024). Pedofilia Menurut Perspektif Hukum Pidana Islam Dan Hukum Positif. Gorontalo Law Review, 354-369. https://doi.org/10.32662/golrev.v7i2.3783
Rofiâ, L. M. (2022). Analisis Kebijakan Hukum Pidana dalam Penjatuhan Sanksi Kebiri pada Pelaku Kejahatan Seksual Terhadap Anak. Jurnal Kolaboratif Sains, 5(10), 706-719. https://doi.org/10.56338/jks.v5i10.2840
Rohmy, A. M., Setiyono, S., & Nihayaty, A. I. (2022). Kebijakan Pidana Tindakan Kebiri Kimia Pelaku Kejahatan Seksual Berulang Pada Anak Di Indonesia. Jurnal Rechtens, 11(2), 161-184. https://doi.org/10.56013/rechtens.v11i2.1361
Sujasmin, S. (2025). Penerapan Sanksi Kebiri Kimia Bagi Pelaku Tindak Pidana Kekerasan Seksual Anak Dalam Perspektif Hak Asasi Manusia. Jurnal USM Law Review, 8(1), 544-558. https://doi.org/10.26623/julr.v8i1.11774
United Nations. (1948). Universal Declaration of Human Rights.
United Nations. (1966). International Covenant on Civil and Political Rights.
United Nations. (1984). Convention Against Torture and Other Cruel, Inhuman or Degrading Treatment or Punishment.
United Nations. (1989). Convention on the Rights of the Child.
Winalvia, A., & Salsabila, A. M. (2023). Sanksi Pidana Pelaku Pemerkosaan Anak di Bawah Umur Berdasarkan Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2004. Jurnal Al-Jina'i Al-Islami, 1(1), 23-32. https://doi.org/10.15575/jaa.v1i1.144


















