Legal Certainty Regarding a Deed of Mortgage That Was Not Signed by a Former Spouse as Joint Property

Authors

  • Syifa Azzahra Universitas Jayabaya Author
  • Putra Hutomo Universitas Jayabaya Author
  • Taqiyuddin Taqiyuddin Universitas Jayabaya Author

DOI:

https://doi.org/10.65310/ysjg4v71

Keywords:

Deed of Granting Mortgage Rights, Legal Certainty, Marital Property, Mortgage Rights, Former Spouse Consent.

Abstract

Mortgage Rights constitute a security right over land that grants creditors preferential status and executorial power. Legal problems arise when a Deed of Granting Mortgage Rights is executed over marital property without the consent or signature of a former spouse who still holds rights over the property. This study aims to analyze the legal consequences and legal certainty of such deeds. It employs normative juridical research using statutory, case, conceptual, and analytical approaches. The findings show that a deed concerning marital property made without the consent of the entitled party may contain substantive defects and may be declared invalid or void by a court. Consequently, the Mortgage Right may lose its binding force, preferential right, and executorial power, while the underlying credit agreement remains valid insofar as it satisfies the requirements of a lawful contract. Legal certainty therefore requires harmonization of marriage law, security law, and contract law, together with strict prudential verification by banks and Land Deed Officials regarding marital status, ownership, property division, and consent before deed execution.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia. (2012). Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 8 Tahun 2012.

Badrulzaman, M. D. (1991). Perjanjian kredit bank. Citra Aditya Bakti.

Chendra, J. E. P., et al. (2020). Kepastian hukum dalam perbuatan hukum atas harta bersama pada pembelian dan penjaminan hak atas tanah. Mimbar Hukum.

Harahap, Y. (n.d.). Segi-segi hukum perjanjian. Alumni.

Harsono, B. (1999). Hukum agraria Indonesia: Sejarah pembentukan Undang-Undang Pokok Agraria, isi dan pelaksanaannya. Djambatan.

Hasbullah, F. H. (2005). Hukum kebendaan perdata jilid II: Hak-hak yang memberi jaminan. Ind-Hill Co.

Hermansyah. (2008). Hukum perbankan nasional Indonesia (Edisi revisi). Kencana.

Indonesia. (1945). Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Indonesia. (1974). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

Indonesia. (1996). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan atas Tanah Beserta Benda-Benda yang Berkaitan dengan Tanah.

Indonesia. (1997). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah.

Indonesia. (2021). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2021 tentang Hak Pengelolaan, Hak atas Tanah, Satuan Rumah Susun, dan Pendaftaran Tanah.

Indonesia. (2023). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan.

Kansil. (1997). Pokok-pokok hukum Hak Tanggungan atas tanah. Pustaka Sinar Harapan.

Kasmir. (2010). Bank dan lembaga keuangan. PT RajaGrafindo Persada.

Khoidin, M. (2017). Hukum jaminan: Hak-hak jaminan, Hak Tanggungan, dan eksekusi Hak Tanggungan. Laksbang Yustitia.

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

Mahkamah Agung Republik Indonesia. (2017). Putusan Mahkamah Agung Nomor 222 K/Pdt/2017 jo. Putusan Pengadilan Tinggi Surabaya Nomor 197/PDT/2015/PT SBY jo. Putusan Pengadilan Negeri Gresik Nomor 63/Pdt.G/2013/PN.Gs.

Mahkamah Agung Republik Indonesia. (2020). Putusan Mahkamah Agung Nomor 224 K/Pdt/2020 jo. Putusan Pengadilan Tinggi Nomor 234/PDT/2017/PT.PBR jo. Putusan Pengadilan Negeri Nomor 170/PDT.G/2016/PN Btm.

Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. (2015). Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 69/PUU-XIII/2015.

Muljadi, K., & Widjaja, G. (2006). Hak Tanggungan. Seri Hukum Kekayaan.

Pengadilan Tinggi. (2021). Putusan Nomor 517/Pdt/2021 jo. Putusan Pengadilan Negeri Karanganyar Nomor 20/Pdt.G/2021/PN.Krg.

Poesoko, H. (2007). Parate executie obyek Hak Tanggungan: Inkonsistensi, konflik norma dan gugatan debitor. LaksBang Pressindo.

Salim, H. S. (2014). Perkembangan hukum jaminan di Indonesia. PT RajaGrafindo Persada.

Santoso, U. (2016). Pejabat Pembuat Akta Tanah: Ruang lingkup tugas, tanggung jawab, dan kode etik. Kencana.

Satrio, J. (2002). Hukum jaminan: Hak-hak jaminan kebendaan. Citra Aditya Bakti.

Sitompul, Z. (2015). Panduan yuridis pembuatan kontrak dan pengikatan jaminan kredit perbankan. PT Citra Aditya Bakti.

Sjahdeini, S. R. (1996). Hak Tanggungan: Asas-asas, ketentuan-ketentuan pokok dan masalah-masalah yang dihadapi oleh perbankan. Airlangga University Press.

Soeroso, R. (2011). Pengantar ilmu hukum. Sinar Grafika.

Subekti, T. (2005). Keluarga dan perkawinan [Bahan pembelajaran]. Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman.

Sutarno. (2003). Aspek-aspek hukum perkreditan bank. Alfabeta.

Syahrani, R. (n.d.). Rangkuman intisari ilmu hukum. Citra Aditya Bakti.

Thalib, S. (2014). Hukum kekeluargaan Indonesia. UI-Press.

Usman, K. (2016). Perbankan syariah: Dasar dan dinamika perkembangan di Indonesia. PT RajaGrafindo Persada.

Usman, R. (2007). Aspek-aspek hukum perbankan di Indonesia. Gramedia Pustaka Utama.

Usman, R. (2008). Hukum jaminan keperdataan. Sinar Grafika.

Published

2026-09-03

How to Cite

Legal Certainty Regarding a Deed of Mortgage That Was Not Signed by a Former Spouse as Joint Property. (2026). Journal of Legal, Political, and Humanistic Inquiry, 2(1), 160-170. https://doi.org/10.65310/ysjg4v71